PULAUBAWEAN.com

Informasi Seputar Pulau Bawean

Biografi Sastrawan Bawean

Biografi Sastrawan Bawean
Biografi Sastrawan BaweanReviewed by PULAUBAWEAN.comon.This Is Article AboutBiografi Sastrawan BaweanMochammad Natsir Abrari atau dalam dunia sastra lebih dikenal dengan Sir Baidy Iskak. Sir Baidy Iskak sebagai pengarang daerah yang cukup profesional dan pernah mendapat beberapa penghargaan. Sejak kecil sir Baidy sudah menyukai dunia sastra, utamanya drama dan puisi. Sejak kelas I SMP hingga kelas 2 SMA, Beliau selalu menjuarai pertandingan baca puisi se-Kabupaten Gresik, […]

Mochammad Natsir Abrari atau dalam dunia sastra lebih dikenal dengan Sir Baidy Iskak. Sir Baidy Iskak sebagai pengarang daerah yang cukup profesional dan pernah mendapat beberapa penghargaan. Sejak kecil sir Baidy sudah menyukai dunia sastra, utamanya drama dan puisi. Sejak kelas I SMP hingga kelas 2 SMA, Beliau selalu menjuarai pertandingan baca puisi se-Kabupaten Gresik, sehingga menjelang kelas 3 SMA, Beliau sudah tidak diperkenankan mengikuti pertandingan baca puisi lagi. Kemudian, pada tahun 1972, Beliau merantau ke Jakarta. Selama sepuluh tahun di Jakarta Sir Baidy bergelut dengan dunia teater.

Pada tahun 1976 memimpin “Teater Bara” di Cilincing Jakarta Utara. Kemudian bergabung dengan “Teater Gelut”, dan memimpin “Teater Sunda Kelapa”.
Terakhir Sir Baidy bersama teaternya “Art Study Club” berhasil menjuarai Festival Teater Remaja di Taman Ismail Marzuki. Selama di Jakarta Sir Baidy belajar teater pada Rendra, Putu Wijaya dan Adi Kurdi.

Setelah selama sepuluh tahun di Jakarta, akhirnya Sir Baidy pulang ke kampung halamannya yaitu pulau Bawean. Sesampainya di Bawean, Sir Baidy mendirikan “Teater kesit” dan dua kali berturut-turut berhasil menjuarai festival Teater di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya. Pada Tahun 1992, Sir Baidy dipercaya oleh Persatuan Bawean – Singapura untuk membuat drama yang akan dipentaskan di Singapura, Malaysia, Tanjung Pinang dan Batam. Ternyata, drama ini benar-benar sukses karena pada saat pementasan drama ” Lanapak Ka Jhudhuna” di gedung Kallang Theatre Singapura, penonton yang menyaksikan pementasan drama ini yaitu sekitar 2400 penonton. Padahal, biasanya pementasan semacam ini maksimal hanya ditonton oleh 800 penonton.

Sir baidy sering menerima penghargaan sastra, khususnya dalam bidang drama, teater, dan puisi. Menurut pengakuan Sekretaris Persatuan Bawean – Singapura Kala itu, Saudari Noorliyati: ” Tidak disangka di Pulau kecil macam Bawean ini, ada seorang yang mampu menjerumuskan (mewakili) pemikirannya ke dunia Internasional “.
Sir baidy memiliki profesi yang beragam, sebagai sastrawan, budayawan, akademis, kritikus, dan aktifis, dengan segala konsekuensinya.

Selain mengarang dan menyutradarai drama, Sir Baidy juga menulis cerpen dan puisi. Puisi sir Baidy sudah ada dalam bentuk budget kecil dengan judul ” Seratus Delapan Puluh Derajat “.Sir baidy juga pernah menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP dan SMU Negeri dan Swasta di Bawean, dan pernah mengajar teater di Jakarta. Hingga kini, Sir Baidy masih aktif menulis puisi, cerpen, dan drama, juga sebagai pelatih teater. (iwn)

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

12 Responses

  1. Laskar Filosof20 April 2009 at 03:53

    beliau sekarng berdomisili dimana?

  2. pulaubawean.com2 Juni 2009 at 15:17

    Tempat tinggalnya di Tambak timur, tapi sekarang bertugas di Bea Cukai Gresik.

  3. Anonymous3 Juni 2009 at 10:57

    Rupanya di Bawean ada juga sastrawan ya? saya kirain cuma tki dan pelaut aja yang ada disana. dari dulu ingin sekali saya ke bawean tapi belum pernah kesampaian.

    Idris Amirullah-Buton

  4. ijank-gresik23 Oktober 2009 at 03:22

    Aku kenal pak Natsir sebagai penulis dan pembaca puisi yang sangat mempesona dan menyentuh hati, tak kukira pengalamannya dan kedalaman berkesusasteraannya seluas ini. Aku rindu ingin membaca kembali puisi pak Natsir tentang polemik bawean untuk menjadi kabupaten. mungkin judulnya “seratus delapan puluh derajat” itu, tolong ditampilkan disini ya. Aku pernah membacanya dihadapan teman2 mahasiswa bawean, dengan gaya meniru-niru pak Natsir, tak sedikit teman2ku yang terpingkal-pingkal, hehe…

  5. Anonymous4 Januari 2010 at 14:28

    ternyata p.natsir benar2 hebat ya, 2 bulan terakhir kenal beliau. rasanya kayak berpuluh-puluh tahun. Semoga dimasa sekarang setelah pensiun dari bea cukai bisa lebih fokus untuk menghasilkan karya2 yang spektakuler.

    Henik

  6. Anonymous17 Maret 2010 at 13:50

    Aku Salut dengan Pak Nasir, Sukses selalu Pak.

  7. Anonymous19 Maret 2010 at 00:53

    Pak Nasir sudah jadi kakek.

  8. Anonymous27 Juli 2011 at 14:43

    saya kenal dengan anaknya pak nasir namanya amalia rizkia kira kira th 1993 dan dia termasuk teman terbaik saya dari eko sidoarjo email.abu.purnomo@yahoo.co.id

  9. didik awal hamzah9 Oktober 2011 at 20:16

    Kak Nasir, sy bangga sama kk. Sy rindu sama kk, sama rindunya sy dg p bawean. Sy ingat kk wkt kk kost di rmh pak guru tumar di gresik. Kak Nasir sering menyanyikan lagu melayu, dan menjadikan sy mencintai budaya melayu yg santun. Dari kk sy bangga menjadi org bawean, yg lahir di desa tambak bawean. Smoga kk senantiasa melahirkan karya2 yg menjadikan bawean lbh dikenal tdk hanya keindahan alamnya, juga indah karena kesantunan masyarakatnya. Salam dr sy, didik awal hamzah, putra pak guru tumar.

  10. KarinaS.A.Faraba31 Oktober 2011 at 01:53

    bisa saya bertemu dengan bapak. saya asli gresik. kebetulan saya sedang ada tugas kuliah . sejarah sastra untuk mewawancarai sastrawan.

  11. Anonymous24 Desember 2011 at 14:57

    Sebagai putra bawean sy bangga dgn pak nasir,apalg satu kampung dgn sy,hidup tambak timur kec. tambak. Lukmanul Hakim ( anggota Brigif – 3 Marinir Lampung )

  12. Ahmad SYUKRI16 Mei 2014 at 22:04

    Bang Nasir. Salam…salam kangen dari teman rujakan party dulu di Jakrta. Semoga senantiasa bersemangat dan terus berkarya. Salam sama mbak Eri. Terimakasih. Syukri