Zikir Samman Bawean

1198 views

Tradisi Samman yang masih aktif sampai saat di Pulau Bawean ada di Dusun Tambak timur dengan nama “Jam’iyatul Syubban”.

Zikir dalam tradisi Samman terdiri dari dari empat bacaan sesuai dengan jumlah nasyid atau lagu. Lafadz atau bacaan zikir tersebut antara lain; Allah…Allah pada nasyid pertama, Ya Allah…hur Rahman pada nidhom kedua, Ha’i…Ya Allah Ha’i…pada nasyid ketiga, dan Allah..hu..Hasbi (diacara lain ‘Allah..Hayyun..ah’) pada nasyid keempat.

Pengucapan zikir ditekankan lafadz Ha atau Hu huruf akhir dari lafadz Allah.Ajaran zikir utama tarekat Sammaniyah adalah dengan bentuk kasidah. Ciri tarekat ini zikirnya dengan suara keras dan melengking, khususnya ketika mengucapkan kata-kata La ilaha illa Allah. Juga terkenal dengan ratib Samman yang hanya menggunakan kata “hu” yang berarti Dia (Allah) (Rosihan, 2002:138).

Tari tradisi “Samman” lebih mengutamakan kekhusyukan dan larut dalam zikir. Penari yang benar-benar khusyuk bahkan sampai ada yang pingsan. Penari yang telah mengalami kepuasan batin atau mengalami kelelahan akan berhenti dan digantikan anggota lain. Tarian ini berlangsung sampai berakhirnya nasyid.

Zikir Samman lebih banyak memiliki persamaan dengan polan zikir tarekat Syattariyah, terutama pada zikir Ismudzat dan Taraqi. Lafadz zikir Ismudzat ‘Allah…Allah’ sama dengan zikir Samman pada nidham kedua. Persamaan lain adalah hentakan zikir yang diajarkan tarekat Syattariyah juga memiliki persamaan dengan hentakan dalam zikir Samman.

Boevier (2002:219) mengungkapkan bahwa tradisi “Samman” berasal dari ratib (semacam kelompok tarekat) Sammaniyah yang didirikan Muhammad Samman. Tarekat Sammaniyah didirikan oleh syaikh Samman (1720 H) di Madinah. Tarekat Sammaniyah masuk ke Nusantara melalui murid-murid Muhammad Samman, diantaranya; Syekh Abd As-Shamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdullah al-Fatani.Tarekat ini tersebar dan mempunyai pengaruh yang dalam di Aceh. Juga tersebar di Palembang dan daerah lainnya. Di Sumatera tarekat ini juga sangat besar pengaruhnya, terutama di daerah pinggiran kota. Di daerah Palembang orang banyak yang membaca riwayat Syaikh Samman sebagai tawassul untuk mendapatkan berkah. (Nasution, 2004: 45).

Tags: #samman

Komentar ditutup.